Kehidupan Anak Muda Jambi yang Berjuang untuk Merangkul Jiwa
Di tengah kehidupan kota Jambi yang penuh dengan kegilaan dan kesibukan, masih ada sekelompok anak muda yang memilih untuk berjalan di jalur yang berbeda. Mereka tidak hanya melihat dunia dari sudut pandang yang biasa, tetapi juga mencoba mengubah cara masyarakat memandang mereka yang sering terabaikan.
Dua sosok muda yang menjadi inspirasi bagi banyak orang adalah Imel dan Nasya. Mereka adalah pendiri Yayasan Merangkul Jiwa Jambi, sebuah gerakan sosial yang fokus pada bantuan kepada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan orang-orang terlantar. Dari awalnya hanya sebagai komunitas kecil, kini yayasan ini telah berkembang menjadi organisasi yang aktif dalam memberikan bantuan langsung di lapangan.
Tidak mudah bagi mereka untuk menjalani perjalanan ini. Banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk situasi yang bisa menimbulkan ketegangan. Namun, dengan pendekatan yang manusiawi, prosedur keselamatan yang jelas, serta kerja sama dengan berbagai pihak, mereka membuktikan bahwa kepedulian bisa berjalan bersama dengan keamanan.
Cerita di Balik Merangkul Jiwa
Melalui sesi wawancara santai di Mojok Asyik Tribun Jambi, Imel dan Nasya membuka cerita tentang bagaimana mereka membangun Merangkul Jiwa. Mereka menjelaskan bahwa tujuan utama dari yayasan ini adalah untuk memanusiakan manusia, terlepas dari kondisi apa pun yang mereka alami.
“Mereka juga manusia, hanya saja sedang butuh rangkulan dan perhatian,” ujar Imel.
Sampai saat ini, Merangkul Jiwa telah berhasil membantu sekitar 15 orang ODGJ dan orang terlantar. Proses evakuasi dan pendampingan dilakukan dengan langkah-langkah yang hati-hati dan disiplin. Tim relawan selalu menggunakan masker, sarung tangan, serta strategi tim yang terencana. Bahkan, beberapa anggota tim memiliki latar belakang atlet, sehingga lebih siap jika terjadi hal-hal tak terduga.
Pengalaman Nasya Sebagai Relawan
Nasya, salah satu relawan yang ikut bergabung, mengatakan bahwa awalnya ia merasa takut untuk berinteraksi dengan ODGJ. Namun, setelah mencoba berbaur dengan mereka, ia menyadari bahwa kekhawatiran itu tidak perlu ada.
“Setelah berinteraksi, ternyata mereka tidak semenakutkan itu. Justru seru dan penuh pelajaran hidup,” ujar Nasya.
Ia juga menjelaskan bahwa acara-acara besar seperti Season 1 di Hero Humanity, Season 2 di Rumah Sakit Jiwa Jambi, dan Season 3 di panti jompo, menjadi ajang untuk menjangkau semua kalangan yang membutuhkan bantuan.
Tantangan dan Pelajaran Hidup
Imel mengungkapkan bahwa penyebab utama gangguan jiwa yang sering ditemui adalah narkoba, faktor ekonomi, tekanan hidup, masalah asmara, bahkan candu game. Ia juga menyampaikan bahwa ketika ODGJ tidak memiliki keluarga, mereka biasanya dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) selama 21 hari dengan BPJS, lalu diberi arahan ke tempat rehabilitasi yang bekerja sama dengan tim.
Salah satu pelajaran terpenting yang didapat oleh Nasya adalah rasa syukur. “Kita jadi sadar bahwa hidup kita masih jauh lebih baik. Dan kebahagiaan itu ternyata ada saat kita bisa membantu orang lain,” katanya.
Harapan dan Pesan untuk Anak Muda
Imel menyampaikan harapan agar lebih banyak dukungan bisa diberikan, terutama dari pemerintah. Ia juga ingin kolaborasi yang lebih luas agar lebih banyak jiwa bisa dirangkul.
Pesan untuk anak muda Jambi adalah untuk ikut serta dalam kegiatan sosial. “Biarkan lebih sadar diri, lebih bersyukur, dan lebih berguna,” pesan Nasya.
Imel menambahkan, “Pedulilah sesama manusia. Karena apa yang kita lakukan hari ini, itulah yang akan kembali kepada kita.”
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











