My WordPress Blog
Budaya  

Doa Kamilin Setelah Tarawih: Niat Imam, Makmum, dan Sendiri

Ringkasan Berita tentang Doa Kamilin dan Tata Cara Shalat Tarawih

Doa Kamilin adalah doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca setelah melaksanakan Shalat Tarawih selama bulan Ramadan. Doa ini mengandung permohonan untuk memiliki iman yang sempurna, kekuatan spiritual, serta harapan untuk masuk surga. Doa Kamilin juga bisa dibaca sebelum Shalat Witir sebagai bentuk penguatan keimanan.

Doa Kamilin dalam bahasa Arab:

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ
وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ
وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ
وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ
وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ
وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ
وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ
وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ
وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ
وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ
وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ
وَلِنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ
وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ
وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ
وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ
وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ
وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ
وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ
وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ
وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ.
وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ
بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن
مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا
اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ
وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ
بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Doa Kamilin dalam bahasa Latin:

Allâhummaj' alnâ bil îmâni kâmilîn.
Wa lil farâidli muaddîn.
Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ'ilîn.
Wa lima 'indaka thâlibîn.
Wa li 'afwika râjîn.
Wa bil-hudâ mutamassikîn.
Wa 'anil laghwi mu'ridlîn.
Wa fid-dunyâ zâhdîn.
Wa fil 'âkhirati râghibîn.
Wa bil-qadlâ'I râdlîn.
Wa lin na'mâ'I syâkirîn.
Wa 'alal balâ'i shâbirîn.
Wa tahta liwâ'i muhammadin shallallâhu 'alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ'irîna wa alal haudli wâridîn.
Wa ilal jannati dâkhilîn.
Wa minan nâri nâjîn.
Wa 'alâ sariirl karâmati qâ'idîn.
Wa bi hûrun 'in mutazawwijîn.
Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn.
Wa min tha'âmil jannati âkilîn.
Wa min labanin wa 'asalin mushaffan syâribîn.
Bi akwâbin wa abârîqa wa ka'sin min ma'în.
Ma'al ladzîna an'amta 'alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ'i wash shâlihîna wa hasuna ulâ'ika rafîqan.
Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi 'alîman.
Allâhummaj' alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su'adâ'il maqbûlîn.
Wa lâ taj'alnâ minal asyqiyâ'il mardûdîn.
Wa shallallâhu 'alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma'în.
Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil 'âlamîn.

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara sholat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra, yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Hukum Shalat Tarawih

Shalat Tarawih merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilakukan selama bulan Ramadan. Hukumnya adalah sunnah, namun banyak umat Islam yang menjalaninya secara rutin karena manfaatnya yang besar.

Waktu Pelaksanaan Shalat Tarawih

Waktu pelaksanaan Shalat Tarawih adalah setelah Shalat Isya hingga fajar (sebelum datang waktu Subuh). Shalat Tarawih dapat dilakukan setiap malam selama bulan puasa Ramadan.

Niat Shalat Tarawih

Niat Shalat Tarawih sebagai Imam:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat shalat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”

Niat Shalat Tarawih sebagai Makmum:

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat Shalat Tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

Niat Shalat Tarawih Sendiri (Munfarid):

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat Shalat Tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara Shalat Tarawih

Tata cara pelaksanaan Shalat Tarawih bisa dikerjakan dengan cara 4 rakaat, 4 rakaat tanpa tasyahud awal, dan 3 rakaat witir tanpa tasyahud awal. Shalat Tarawih juga bisa dikerjakan dengan cara 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat dan 1 rakaat Witir.

Shalat Witir

Setelah Shalat Tarawih, hendaknya diteruskan melaksanakan Shalat Witir, minimal satu rakaat. Namun, pada umumnya, Shalat Witir dikerjakan tiga rakaat dengan dua salam. Tapi, diperbolehkan juga jika dikerjakan tiga rakaat dengan satu salam.

Niat Shalat Witir

Niat Shalat Witir 1 Rakaat:

اُصَلِّى سُنًّةَ الْوِتْرِرَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًاِللهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat Shalat Witir satu rakaat menghadap qiblat menjadi makmum karena Allah ta’alaa”.

Niat Shalat Witir 3 Rakaat:

اُصَلِّى سُنًّةَ الْوِتْرِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya berniat Shalat Witir tiga rakaat menghadap kiblat menjadi (ma’muman/imaman) karena Allah ta’alaa”.

Urutan Surat Pendek yang Dibaca saat Shalat Tarawih

Ada sekitar 10 surat pendek Al-Quran yang biasa dibaca saat Shalat Tarawih maupun Shalat Witir selama bulan puasa Ramadhan. Di samping itu, dalam Shalat Tarawih surat yang dibaca setelah Al-Fatihah sebaiknya adalah:

a). Malam tanggal 1 sampai pertengahan Ramadhan:
* At-Takaatsur
* Al-‘Ashr
* Al-Humazah
* Al-Fiil
* Quraisy
* Al-Maa’uun
* Al-‘Kautsar
* Al-Kaafiruun
* An-Nashr
* Al-Lahab

Sedangkan setiap rakaat kedua dibaca surat Al-Ikhlash.

b). Malam pertengahan sampai akhir Ramadhan:
Setiap rakaat pertama dibaca surat Al-Qadr.
Sedangkan setiap rakaat kedua dibaca surat-surat berikut secara berurutan:
* At-Takaatsur
* Al-‘Ashr
* Al-Humazah
* Al-Fiil
* Quraisy
* Al-Maa’uun
* Al-‘Kautsar
* Al-Kaafiruun
* An-Nashr
* Al-Lahab

Urutan Surat Pendek yang Dibaca saat Shalat Witir

Ustadz H Nasrihul Haq menjelaskan, terkait dengan bacaan surah yang disunnahkan pada Shalat Witir, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskannya, antara lain:

Dari ‘Ubay bin Ka’ab beliau berkata: Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat witir dengan membaca Sabbihismarabbikal a’laa (al-A’la), dan Qul yaa ayyuhal kafirun (al-Kafirun), dan Qul huwallahu ahad (al-Ikhlas). (HR. Ahmad, An-Nasai dan yang lainnya).

Riwayat ini menyebutkan bahwa bacaan surah pada rakaat terakhir (rakaat ketiga) Shalat Witir adalah surah Al Ikhlas.

Dalam sebuah riwayat juga dinyatakan bahwa Aisyah ra ditanya tentang surah yang dibaca oleh Nabi Muhammad SAW dalam Shalat Witir. Lalu dia menjawab, “Pada rakaat pertama beliau membaca sabbihisma rabbika al-A‘la, pada rakaat kedua membaca qul ya ayyuha al-kafirun, dan pada rakaat ketiga membaca qul huwallahu ahad dan al-mu‘awwidzatain. Al-mu‘awwidzatain adalah qul a‘udzu bi rabbi al-falaq dan qul an-nas.” (HR Tirmidzi)

Riwayat yang kedua ini menunjukkan bahwa bacaan surah pada rakaat terakhir dari Shalat Witir adalah 3 surah yang biasa disebut 3 Qul, yaitu surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.

Adapun membaca surah-surah yang lain selain 3 surah tersebut pada dasarnya dibolehkan. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits riwayat An-Nasai yang menyebutkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ary pernah menunaikan Shalat Witir satu rakaat dengan membaca 100 ayat dari surat An-nisa, kemudian beliau mengatakan: “aku membaca apa yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

  • Surah Al-A’la pada rakaat pertama – Baca buka di sini
  • Al-Kafirun pada rakat kedua – Baca buka di sini
  • Al-Ikhlas pada rakaat terakhir – Baca buka di sini

Kemudian boleh menambahkan 2 surah setelah Al-Ikhlas yaitu;
* Al-Falaq – Baca buka di sini

* An-Nas – Baca buka di sini

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *