My WordPress Blog

Ratusan Warga Afrika Tewas dalam Perang Ukraina setelah Ditipu Jadi Tentara Rusia

Korban Jiwa dari Warga Afrika dalam Konflik Ukraina-Rusia

Ratusan warga dari berbagai negara di Afrika tewas dalam konflik antara Ukraina dan Rusia, setelah direkrut secara ilegal sebagai tentara Rusia atau menjadi korban penipuan. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya dampak perang yang terjadi di Eropa Timur terhadap masyarakat Afrika.

Menteri Luar Negeri Ghana, Samuel Okudzeto Ablakwa, mengungkapkan bahwa setidaknya 55 warga Ghana tewas dalam pertempuran di Ukraina, sementara dua lainnya saat ini ditahan sebagai tawanan perang. Jumlah ini merupakan angka tertinggi dari satu negara Afrika yang secara resmi dikonfirmasi dalam konflik Ukraina-Rusia.

Media lokal di Kamerun melaporkan bahwa 94 warga negaranya telah meninggal dalam perang Rusia-Ukraina, namun pihak berwenang belum memberikan komentar mengenai angka tersebut. Sementara itu, Pemerintah Afrika Selatan menyebutkan bahwa dua warganya tewas di Ukraina, sementara 15 lainnya dipulangkan selama seminggu terakhir. Dua orang lagi masih berada di Rusia untuk menjalani perawatan karena cedera yang sangat parah.

Selain itu, setidaknya satu warga Kenya tewas dalam konflik di Rusia dan Ukraina. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ancaman dari konflik ini tidak hanya menimpa warga negara dari negara-negara Eropa, tetapi juga menyebar ke wilayah Afrika.

Ghana Melacak Pelaku Perekrutan Jadi Tentara Rusia

Dalam kunjungannya ke Kyiv, Samuel Okudzeto Ablakwa menyampaikan bahwa sekitar 272 warga Ghana diyakini telah dibujuk untuk terlibat dalam konflik sejak 2022, berdasarkan data otoritas Ukraina. Ablakwa menggambarkan angka-angka ini sebagai hal yang mengecewakan dan menakutkan. “Ghana tidak dapat menutup mata terhadap statistik yang memilukan ini,” ujar Ablakwa dikutip dari BBC Internasional, Sabtu (28/2).

Ia tidak menyebutkan pihak mana yang didukung oleh warga Ghana, tetapi Menteri Luar Negeri Ukraina mengatakan pada Rabu (25/2) bahwa lebih dari 1.700 orang dari 36 negara di Afrika telah direkrut untuk berperang bagi Rusia. Selain itu, Ukraina sebelumnya menuai kritik karena berupaya merekrut warga negara asing, termasuk warga Afrika, untuk berperang di pihaknya.

Ablakwa menekankan bahwa jumlah korban jiwa bukan hanya sekadar angka, tetapi mewakili nyawa manusia dan harapan banyak keluarga di Ghana. Dia menyatakan bahwa pemerintah Ghana berkomitmen untuk melacak dan membongkar semua skema perekrutan ilegal di dark web, serta meluncurkan kampanye kesadaran publik yang intensif untuk mencegah kaum muda negara itu terlibat dalam konflik.

“Ini bukan perang kita dan kita tidak bisa membiarkan generasi muda kita menjadi perisai manusia bagi orang lain,” ujar Ablakwa.

Warga Kenya Didakwa Bujuk Para Pemuda untuk Jadi Tentara Rusia

Polisi di Kenya telah mendakwa seorang pria yang dituduh memikat para pemuda ke Rusia dengan iming-iming peluang kerja, hanya agar mereka akhirnya berperang di Ukraina. Pria yang dimaksud adalah Kepala Agen Perekrutan Global Faces Human Resources Festus Arasa Omwamba. “Ia merekrut 22 warga Kenya dengan tujuan eksploitasi melalui penipuan,” kata jaksa penuntut pada Kamis (26/2).

Para korban diselamatkan September 2025 dari suatu kompleks apartemen di Athi River, kota dekat ibu kota, Nairobi, sebelum mereka dapat melakukan perjalanan ke Rusia. Namun, tiga orang lainnya telah meninggalkan Kenya, mendapati diri mereka berada di garis depan perang dan kembali ke rumah dengan luka-luka, tambah jaksa penuntut.

Omwamba, yang berusia 33 tahun, mengaku tidak bersalah atas tuduhan yang dikenakan kepadanya. Menurut laporan dari Badan Intelijen Nasional Kenya (NIS) yang dirilis pekan lalu, sebanyak 1.000 warga Kenya telah direkrut untuk berperang sebagai tentara Rusia dalam perang empat tahunnya melawan Ukraina.

Rusia Bantah Terlibat

Kedutaan Besar Rusia di Kenya membantah tuduhan bahwa mereka terlibat dalam perekrutan orang untuk berperang. Namun, disebutkan bahwa hukum Rusia mengizinkan warga negara asing atau WNA yang berada di negara itu secara sah untuk mendaftar secara sukarela ke angkatan bersenjata.

Tertipu untuk Ikut Berperang di Ukraina

Perempuan warga Uganda, Caroline Mukiza, 42 tahun, bercerita bahwa suaminya yang berusia 46 tahun, Edson Kamwesigye, tewas di garis depan perang Rusia di Ukraina. Mukiza mengatakan bahwa suaminya sebelumnya pernah bekerja sebagai petugas keamanan di Irak dan Afghanistan. Dia tahu bahwa pada Desember 2025, Kamwesigye naik pesawat ke Moskow untuk pekerjaan lain sebagai petugas keamanan. Tetapi untuk waktu yang lama, Mukiza tidak mendengar kabar apa pun darinya.

Kemudian, pada 15 Januari 2026, dia menerima pesan: “Ia berkata: ‘Saudara-saudara, saya butuh doa kalian. Kami dipaksa menandatangani kontrak yang bersifat militer,'” kata dia dikutip dari DW.com, Sabtu (28/2). Setelah menjalani program pelatihan singkat, suaminya dikirim ke garis depan. Ia semakin khawatir ketika foto-foto mulai beredar di internet pada Januari 2026, yang menunjukkan seorang pria meninggal dunia, yang menurut kenalannya adalah Kamwesigye.

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha memperingatkan Pemerintah Afrika bahwa warga negara mereka dibujuk untuk pergi ke Rusia dan tewas di medan perang. “Menandatangani kontrak militer Rusia sama dengan hukuman mati. Sebagian besar tentara bayaran tidak bertahan hidup lebih dari sebulan,” kata dia melalui X.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *