My WordPress Blog
Budaya  

Kunci Meraih Iman yang Manis: Teks Kultum Subuh 10 Ramadan 1447 H

Pentingnya Ibadah di Bulan Ramadan

Di bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk memperkuat keimanannya melalui berbagai ibadah. Selain puasa yang dilakukan selama 14-15 jam sehari selama sebulan penuh, ada juga ibadah-ibadah lain yang disunahkan. Salah satu amalan penting adalah mendengarkan kultum dari para penceramah. Kultum biasanya disampaikan sebelum buka puasa atau setelah shalat subuh. Tujuannya adalah untuk membangkitkan semangat beribadah di malam-malam awal Ramadan.

Berikut ini adalah naskah kultum shalat subuh yang dapat digunakan oleh para penceramah:

Kunci Meraih Manisnya Iman

Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya. Dengan izin dan kekuatan dari-Nya semata, kita masih mampu mengisi bulan Ramadhan sesuai tuntunan syariat-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan teruntuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta segenap keluarga dan sahabatnya. Semoga kelak di akhirat kita mendapatkan syafaatnya. Amin.

Jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah…

Ibarat makanan dan minuman, keimanan itu memiliki cita rasa tersendiri. Cita rasa keimanan adalah lezat atau manis. Imam Muslim dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Orang yang akan dapat merasakan lezatnya keimanan adalah seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, ridha Islam sebagai dînnya, dan ridha Muhammad sebagai rasulnya.” (HR. Muslim no. 34 dan at-Tirmidzi no. 2623)

Imam an-Nawawi asy-Syafi’i dalam al-Minhâj bi-Syarh Shahîh al-Imâm Muslim ibni al-Hajjâj berkata, “Yang dimaksud dengan ‘kelezatan iman’ atau ‘manisnya keimanan’ adalah merasakan lezatnya amal-amal ketaatan dan rela menanggung beban-beban (kesusahan-kesusahan) demi mendapatkan ridha Allah dan ridha Rasul-Nya, serta mendahulukan ridha Allah dan ridha rasul-Nya atas kenikmatan duniawi.”

Tiga Kunci Meraih Manisnya Iman

Dalam hadits shahih di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa seorang manusia dapat merasakan kelezatan iman atau manisnya keimanan, apabila ia telah ridha pada tiga perkara.

Pertama: Ridha Allah sebagai Rabbnya

Maknanya adalah hati seorang hamba merasa puas dan menerima sepenuh hati, dengan penuh lapang dada, fakta bahwa Allah adalah Rabb yang telah menciptakannya, memberinya rezeki, menghidupkannya, mematikannya, serta mengatur kehidupannya di dunia maupun akhirat kelak. Konsekuensinya adalah ia hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Semua amal ibadahnya ditujukan untuk mencari ridha Allah dan surga-Nya semata, bukan untuk mencari pujian manusia, harta kekayaan, jabatan, dan kenikmatan duniawi lainnya.

Kedua: Ridha Islam sebagai Dinnya

Maknanya adalah hati seorang hamba merasa puas, lapang dada, dan menerima sepenuh hati agama Islam sebagai panduan hidupnya. Ia meyakini kebenaran semua ajaran Islam yang terkandung dalam al-Quran, hadits shahih, dan ijmak (kesepakatan seluruh ulama mujtahidin). Ia menerima semua ajaran Islam dengan ikhlas, lapang dada, dan gembira, tanpa merasa keberatan sedikit pun. Ia meyakini semua ajaran Islam membawa kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia dan menolak mara bahaya dari diri mereka.

Ketiga: Ridha Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi al-Qurasyi sebagai Nabinya dan Rasulnya

Maknanya adalah hati seorang hamba merasa puas, lapang dada, dan menerima sepenuh hati Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi al-Qurasyi sebagai nabi terakhir dan rasul terakhir, kepada seluruh bangsa jin dan manusia. Ia meyakini kebenaran kenabian dan kerasulan Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wasallam. Konsekuensinya adalah ia membenarkan semua sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menjalankan semua perintahnya sesuai batas maksimal kemampuannya, menjauhi semua larangannya, baik yang haram maupun yang makruh, beribadah kepada Allah Ta’ala dengan mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai suri teladan dalam seluruh aspek kehidupannya.

Penutup

Imam an-Nawawi menjelaskan makna hadits di atas secara ringkas dengan menyatakan, “Makna hadits tersebut adalah ia hanya mencari ridha Allah semata, ia hanya menempuh jalan Islam semata, dan ia tidak beramal kecuali sesuai syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” Tidak diragukan lagi barang siapa memiliki keadaan seperti itu, niscaya kelezatan iman telah merasuk ke dalam hatinya dan ia bisa merasakan kelezatannya.

Inilah tiga keridhaan, yang apabila terkumpul dalam hati seorang hamba, niscaya ia akan merasakan lezatnya keimanan. Ia akan mampu menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan dan keringanan. Ia akan mampu menjauhi larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya dengan penuh keikhlasan dan keringanan, meskipun bertolak belakang dengan hawa nafsunya sendiri.

Demikian materi kultum dengan judul “Kunci Meraih Manisnya Iman” yang dapat kami sampaikan. Semoga kita termasuk golongan yang berhasil mengamalkan tiga keridhaan ini, sehingga kita bisa merasakan manisnya keimanan.

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *