My WordPress Blog
Budaya  

Penyebaran Islam Habib Kuncung: Dakwah Tanpa Mimbar, Mengislamkan Melalui Akhlak

Sejarah dan Keajaiban Habib Kuncung di Makamnya

Lantunan ayat suci menggema di sebuah bangunan hijau seluas 6×12 meter di kawasan Rawajati Timur II, Pancoran, Jakarta Selatan. Di sanalah bersemayam Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad, atau yang lebih dikenal masyarakat luas dengan julukan Habib Kuncung. Bukan sekadar makam biasa, tempat ini menjadi magnet wisata religi yang tak pernah sepi. Sosok Habib Kuncung dikenang bukan karena ceramah di mimbar-mimbar besar, melainkan melalui akhlak dan deretan karomah yang membantu rakyat kecil di masa penjajahan Belanda.

Asal-usul Julukan “Kuncung” dan Karomah Peci Bugis

Nama “Kuncung” ternyata memiliki sejarah unik yang berkaitan dengan kaum bangsawan. Habib Ahmad yang lahir di Yaman pada 1838 ini, dikenal sering mengenakan kopiah berbentuk kerucut atau kuncung pemberian bangsawan Bugis. Konon, seorang Raja Bugis menantang Habib Ahmad. Siapa pun untuk mengambil peci istimewanya dengan bertarung, ia akan diangkat menjadi raja. Namun, Habib Kuncung berhasil mengambilnya dengan cara yang tak masuk akal.

“Ini peci kalau kamu bisa ambil, saya angkat kamu jadi Raja katanya. Dengan bertarung, tapi Habib Kuncung nggak pakai bertarung. Langsung diambil ke pecinya, tak tahu pindah sendiri itu, tanpa bertarung,” ujar pengurus makam Habib Muhammad bin Ali Al-Haddad kepada .

Sejak saat itu, sang Raja terheran-heran dan Habib Ahmad pun selalu mengenakan peci tersebut hingga julukan “Habib Kuncung” melekat abadi.

Strategi Dakwah Lewat Perbuatan dan “Ahli Darkah”

Berbeda dengan ulama pada umumnya, strategi penyebaran agama Islam yang dilakukan Habib Kuncung sangat menyentuh hati. Beliau disebut menguasai lima tarekat besar, yakni Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah, dan Khalwatiyah. Namun, beliau lebih memilih berdakwah lewat tindakan (bil hal). Dalam dunia kewalian, beliau disebut sebagai Ahli Darkah—sosok yang muncul tiba-tiba saat seseorang berada dalam kesulitan besar. Di era penjajahan, beliau banyak membantu pejuang dan pribumi yang tertindas.

Salah satu kisah ikonik adalah saat beliau menolong seorang tukang delman di Bogor yang sedang sepi penumpang. Bukannya memberi uang, beliau hanya memberikan kantong plastik.

“Di plastik pas dibuka, dalamnya emas itu plastik. Jadi membantunya seperti itu,” tuturnya.

Misteri Jenazah yang “Pindah” Saat Dimakamkan

Habib Kuncung wafat pada usia 93 tahun pada 1922 Masehi. Keajaiban tidak berhenti meski beliau telah tiada. Saat prosesi pemakaman, terjadi peristiwa yang tidak lazim. Awalnya, jenazah akan dimakamkan di komplek keluarga Habib Toha bin Ja’far Al-Haddad. Namun, meski sudah dikerahkan 10 orang, jenazah tersebut tidak bisa diangkat. Setelah dilakukan shalat sunnah, barulah diketahui bahwa beliau ingin dimakamkan di samping Masjid At-Taubah, sesuai pesan yang pernah beliau sampaikan semasa hidup.

“Di samping masjid ada pemakaman wakafnya Habib Abdullah Bin Jafar itu. Akhirnya pas digali di situ, selesai, baru bisa diangkat cuma dengan 4 orang, 2 orang bisa diangkat,” katanya.

Wisata Religi dan Air Gentong Berusia 85 Tahun

Kini, makamnya yang terletak di Jl. Rawajati Timur II menjadi oase spiritual bagi warga Jakarta. Di depan makam, terdapat sebuah gentong air yang telah berusia 85 tahun. Banyak peziarah meminum air ini dengan harapan mendapat berkah, meski pengurus selalu mengingatkan agar tidak terjatuh pada kemusyrikan. Mereka datang bukan hanya untuk berdoa, tapi untuk meneladani sifat tawadhu sang wali yang semasa hidupnya tak pernah mau menerima hadiah uang maupun pakaian dari siapa pun.

Habib Muhammad mengingatkan agar para peziarah tidak melakukan hal-hal yang musrik. Sebab, dirinya sering kali menemukan adanya benda-benda tak wajar diletakkan peziarah di makam habib Kuncung.

“Kalau ziarah jaga adab, jangan sembarangan. Saya pernah nemuin orang menaruh foto perempuan di makam, surat hutang juga, batu cincin. Nah jangan ada begitu-begitu kaya musrikkan, Habib Ahmad gak mau,” imbuhnya.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *