My WordPress Blog
Budaya  

Menggugah rindu persahabatan

Kekuatan Persahabatan dalam Perspektif Islam

Persahabatan adalah salah satu bentuk ikhtiar kegembiraan dalam silaturahim. Dalam persahabatan, kita tidak hanya membangun hubungan berdasarkan kebenaran yang kita anut secara doktrinal, tetapi juga melalui subjektivitas dan rasa saling menghargai. Al-Qur’an menyebutkan, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah : 2). Ini menjadi pedoman bahwa persahabatan harus dibangun dengan kebenaran yang bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebenaran dalam persahabatan bukan hanya tentang menegakkannya, tetapi juga tentang membangun relaksasi dari keadaan yang belum sempurna. Dengan demikian, kebenaran bisa diwujudkan sebagai sesuatu yang layak pada masanya. Persahabatan yang baik ditegakkan melalui ukhuwah, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)” (QS. Al-Hujurat : 10).

Benturan dalam persahabatan sering kali terjadi akibat kesombongan, egoisme, atau sangka jelek. Namun, persahabatan yang baik tidak menjebak perpisahan. Perpisahan terjadi karena ketidakmampuan untuk melenturkan pola hubungan. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk memaafkan, memaklumi, dan memberi jalan keluar kepada sahabat.

Jangan mudah menilai orang sebagai jahat. Bahkan orang yang dinilai jahat masih memiliki kesempatan untuk bertaubat. Kita harus pandai menilai dari berbagai sudut pandang. Jika bertemu dengan sahabat yang dianggap jelek, pertanyaan utamanya adalah bagaimana cara mengakomodasi agar dia berhenti dari kejelekan dan kejahatannya. Bukan dengan membencinya atau menjauhinya, karena itu akan membuat kita kehilangan Shuluh dalam perjalanan persahabatan.

Keberhasilan persahabatan dapat dilihat dari bingkai silaturahim yang panjang. Lebih baik mengajak orang dekat kepada Allah daripada menjauhi mereka yang belum dekat. Dalam konteks ayat “Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya” (QS. At-Tahrim : 8), Nasuha adalah orang yang cacat kemanusiaan, tetapi justru Allah menerima taubatnya dan menjadikannya contoh bagaimana seseorang bertaubat di hadapan Allah.

Hidup tidak selalu mulus. Ada saat-saat di mana kita merasa lemah atau sedih. Namun, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 109). Kita harus memahami bahwa benturan-benturan hidup menjadi indikator perbaikan di masa depan. Prinsip ini harus diyakini secara doktrinal agar kita bisa memahami bahwa bahkan nabi pun memiliki sifat Sami’na wa ato’na, yaitu siap menerima keputusan Allah tanpa gangguan.

Persahabatan harus dilihat dari banyak ukuran. Tukang yang cerdas tidak pernah membuang kayu yang bengkok. Kita juga tidak boleh menyebut pergerakan kita sebagai yang paling benar dari setiap perjalanan hidup. Mungkin ada hal yang kurang dari diri kita sendiri, sehingga kita harus muhasabah dan memperbaiki diri. Sahabat sejati harus pandai memaafkan dan memaklumi.

Jika bingkai persahabatanmu adalah rasa kasih sayang, maka kamu tidak akan pernah membiarkan sahabatmu pergi jauh dari dirimu. Rasulullah mengajarkan kita untuk membangun kohesi sosial dalam bingkai kasih sayang: “Ar-raahimuuna yarhamuhumur-Rahmaan, irhamuu man fil-ardhi yarhamkum man fis-samaa’.” (HR. Tirmidzi).

Secara kontekstual, keberkahan Allah akan lahir bukan hanya dari langit, tetapi juga dari apa yang terjadi di bumi. Semoga yang berpisah segera kembali, yang merasa tidak enak saling memaafkan, dan yang berpikir jelek kepada orang segera memperbaiki cara menilai. Allah Maha Pemaaf dan Mengampuni, dan manusia yang pandai melihat, memaafkan, dan memaklumi menjadi variabel untuk mengeratkan semua persahabatan dalam perjalanan hidup.

Untuk itu, mari kita terus berjalan dalam perjalanan hidup ini: “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah : 7-8). Perintah Allah ini mengajarkan kita bahwa setelah menyelesaikan satu urusan, kita harus segera beralih ke urusan berikutnya.

Minta Allah memberikan perlindungan kepada dirimu agar yang jelek dari orang tidak terjadi kepada dirimu. Biarlah orang melakukan sesuatu yang terkesan menyakitkan, tapi engkau harus punya energi untuk tidak menyakiti hati orang lain. Fokusmu adalah memberi kemanfaatan bahkan kepada orang yang pernah menyakiti hatimu, sampai engkau punya definisi hidup “Tak satu orang pun yang pernah menyakiti hatimu.”

Selamat belajar menata diri. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *