Awal Mula Teror yang Diterima Ketua BEM UGM
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menerima serangkaian teror setelah mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF). Surat tersebut dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa saat ini. Isi surat itu mencakup berbagai isu, mulai dari kisah anak di NTT yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli pena dan buku hingga situasi masyarakat yang semakin memprihatinkan.
Teror yang diterima Tiyo bermula dari pesan singkat yang dikirim oleh nomor asing. Selain itu, ia juga mengaku sempat dikuntit oleh seseorang tak dikenal. Pihak kampus langsung merespons dengan menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan terhadap Tiyo.
Surat ke UNICEF dan Ironi yang Menyentuh
Tiyo menjelaskan bahwa surat yang dikirimkan oleh BEM UGM ke UNICEF dilakukan karena melihat ironi dalam kondisi negara. Contohnya adalah kasus seorang anak di Ngada, NTT, yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli pena dan buku. Di sisi lain, pemerintah menggelontorkan dana besar untuk program seperti iuran Board of Peace (BoP) dan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ada satu ironi yang luar biasa yang mendorong teman-teman BEM UGM untuk mengirimkan surat kepada UNICEF. Ini adalah ikhtiar sekaligus wajah paling nyata, bahwa di republik ini tidak ada lagi yang bisa diharapkan,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa Presiden dinilai tidak sadar terhadap realitas yang ada. “Ketidaktahuan itu kita ambil sebagai diksi stupid. Karena dalam KBBI, bodoh itu artinya tidak tahu. Maka kita ingin supaya ada pihak luar yang didengar oleh Presiden, ketimbang publiknya sendiri,” tambahnya.
Rentetan Teror yang Mengancam
Setelah mengirimkan surat ke UNICEF, Tiyo menerima sejumlah pesan WhatsApp dari nomor asing. Pesan-pesan tersebut masuk secara terus-menerus, meskipun beberapa di antaranya disampaikan dalam bahasa Indonesia. Beberapa contoh pesan yang masuk antara lain:
- Agen asing
- Culik mau?
- Jangan cari panggung jadi tongkosong
- Cari dosamu entr
- Banci
- Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah
Pesan-pesan ini datang dari nomor yang sama, tetapi dikirim pada waktu yang berbeda-beda. Pertama kali, teror diterima Tiyo pada Senin (9/2/2026). Ada sekitar enam nomor asing yang terus menghubunginya, namun tidak ditanggapi.
Selain pesan, Tiyo juga dikuntit oleh dua orang tak dikenal dan difoto dari kejauhan. Sayangnya, dua sosok tersebut hilang ketika dikejar.
Teror Serupa yang Pernah Dialami
Tiyo menjelaskan bahwa teror serupa juga pernah dialaminya sebelumnya. Contohnya adalah saat fotonya dipasang di TKP Abu Bakar Ali dengan tulisan “antek asing”. Ia juga mengalami teror usai BEM UGM menggelar aksi memasang wajah Presiden Prabowo di tubuh sapi sebagai bentuk protes atas program MBG.
Selain itu, Tiyo juga pernah mengalami teror penculikan saat sedang di kereta, pasca aksi demo besar-besaran pada Agustus lalu. Namun, ia menilai teror yang diterimanya kali ini lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Bahasa Kekuasaan dan Harapan untuk Demokrasi
Menurut Tiyo, teror yang diterimanya merupakan bahasa kekuasaan. Ia menegaskan bahwa setiap ekspresi rakyat yang cinta pada bangsanya harus dilindungi. “Tidak boleh dianggap sebagai ancaman. Ketika orang yang peduli pada bangsa yang dianggap ancaman, maka orang-orang yang akan bertahan adalah mereka yang cenderung menjajah negaranya dengan cara memperbaiki mulutnya supaya Bapak senang, supaya Bapak Presiden senang,” ujarnya.
Ia berharap teror yang diterimanya adalah yang terakhir. Menurutnya, teror ini menjadi alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia tidak baik-baik saja. “Saya harap ini terakhir kalinya, tidak hanya BEM UGM. Tidak boleh lagi ada peristiwa teror, penguntitan kepada orang lain atau lembaga lain. Karena di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam sendirinya sebagai warga negara,” imbuhnya.
Kampus Siap Memberikan Perlindungan
Peristiwa teror terhadap Tiyo Ardianto telah diketahui oleh pihak kampus. UGM berkomitmen untuk melindungi civitas akademikanya jika terjadi teror yang mengancam keselamatan. Juru Bicara UGM, Dr I Made Andi Arsana, menyatakan bahwa pimpinan universitas telah melakukan komunikasi dengan Tiyo.
Kampus kemudian menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan. “Pada prinsipnya, atas nama institusi dan berdasarkan konstitusi, UGM berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika UGM dari ancaman atau teror yang berasal dari mana pun,” jelas Made Andi.
Dikonfirmasi terpisah, Tiyo Ardianto membenarkan sudah ada komunikasi dengan pihak universitas terkait upaya perlindungan terhadap dirinya. “Sementara baru koordinasi intens,” jawabnya, soal bentuk perlindungan seperti apa yang diberikan kampus.











