My WordPress Blog

Dampak Kritik Ketua BEM UGM Usai Tudingan Tragedi Anak di NTT: Guru Besar UII Prihatin, DPR Kecam

Kekhawatiran atas Teror yang Dialami Ketua BEM UGM

Kasus teror yang dialami Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), telah memicu kegelisahan di kalangan masyarakat. Ia mengaku diteror dan diancam penculikan setelah mengkritik kebijakan pemerintah terkait tragedi kematian seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ancaman ini tidak hanya berupa pesan ancaman, tetapi juga penguntitan dan pemotretan oleh orang tak dikenal.

Tiyo mengungkapkan bahwa tekanan mulai datang setelah ia menyuarakan kritik terhadap kebijakan negara dan peristiwa tersebut. Dalam wawancaranya, ia menyebutkan bahwa dirinya menerima pesan dari nomor tak dikenal yang mengancam akan menculiknya. Ancaman ini menimbulkan pertanyaan besar tentang apakah suara mahasiswa kini menjadi sasaran pembungkaman.

Intimidasi Berlapis: Ancaman, Penguntitan, hingga Pemotretan

Selain ancaman digital, Tiyo juga mengalami intimidasi fisik. Ia mengaku diikuti dan dipotret oleh dua orang laki-laki dewasa pada 9–11 Februari 2026. Menurutnya, kedua pria tersebut memiliki tubuh tegap dan masih relatif muda. Saat ia mencoba mengejar mereka, keduanya langsung menghilang. Tiyo menduga tekanan ini terkait dengan kritik yang ia sampaikan, karena apa yang ia tulis di berbagai media mungkin membuat beberapa pihak tersinggung.

Akademisi Soroti Represi, Kampus Diminta Hadir Membela

Ketua Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia, Prof. Masduki, menilai bahwa kritik Tiyo berasal dari nurani dan kondisi bangsa. Menurutnya, tindakan represi terhadap mahasiswa seperti ini menjadi ujian bagi kampus dalam memberikan pembelaan. Ia menegaskan bahwa kampus semestinya berdiri di garis depan membela mahasiswanya.

Menurut Prof. Masduki, represi terhadap mahasiswa kritis bisa diprediksi dan berpotensi meningkat. Ia juga menyoroti kebijakan anggaran yang dinilai keliru, yang menyebabkan banyak anak menjadi korban tidak langsung. Ia mengapresiasi keberanian Tiyo dan berharap hal ini menjadi sentilan agar lebih banyak pihak yang bersuara.

Kritik Kebijakan dan Tragedi Anak NTT

Masduki menilai peristiwa ini sebagai tamparan keras bagi negara yang seharusnya mencari solusi dari akar persoalan. Ia menyoroti kebijakan anggaran yang dinilai keliru, terutama bagaimana anggaran pendidikan dialihkan ke makan bergizi. Anak yang meninggal menjadi contoh korban dari kebijakan “keliru” ini. Ia menegaskan bahwa keberanian Tiyo seharusnya menjadi motivasi bagi dosen maupun akademisi UGM untuk lebih aktif bersuara.

DPR Kecam Teror, Polisi Diminta Usut Tuntas

Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, menilai teror terhadap mahasiswa adalah bentuk pembungkaman. Ia menyayangkan aksi tersebut dan mendesak aparat mengusut tuntas siapa yang terlibat dalam aksi teror terhadap Tiyo. Menurutnya, suara Tiyo adalah wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati.

Surat ke UNICEF dan Sikap Tak Gentar

Selain bersuara di media, Tiyo juga mengirim surat resmi ke UNICEF, menyoroti kematian tragis anak yang tidak mampu membeli alat tulis seharga sekitar Rp10.000. Ia bertanya, “Apa jadinya dunia kita ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena tidak mampu membeli pena dan buku?” Ia menegaskan bahwa tragedi ini adalah akibat dari “systemic failure” dan kegagalan negara melindungi warga paling rentan.

Setelah rangkaian teror, Tiyo menegaskan sikapnya tidak berubah. Ia dan BEM UGM tidak akan takut atau gentar. Ia berterima kasih kepada rakyat Indonesia atas doa mereka dan menegaskan akan terus baik-baik saja. Hingga kini, pihak UGM belum memberikan pernyataan resmi. Kasus ini menjadi ujian nyata, apakah kampus, negara, dan aparat mampu melindungi mahasiswa yang berani bersuara demi nurani publik.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *