Kehadiran Gubernur NTT di Rumah Duka YBR
Suasana haru menyelimuti rumah duka di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada, saat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena tiba dan bertatap muka langsung dengan keluarga almarhum YBR, siswa sekolah dasar yang meninggal dunia secara tidak wajar, pada Kamis (29/1).
Gubernur tiba di rumah duka sekitar pukul 12.50 Wita, didampingi oleh Bupati Ngada, Raymundus Bena, Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu, serta perwakilan dari berbagai instansi pemerintahan dan organisasi masyarakat.
Setibanya di rumah adat (Sa’o) keluarga, Gubernur langsung menyalami ibu kandung almarhum, sembari memberi penguatan. Pertemuan itu diselingi ngobrol singkat dengan Ibu korban yang didampingi oleh Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu.
Saat menyampaikan ucapan duka, Melki Laka Lena nampak tak tahan menahan air mata. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan duka mendalam sekaligus permohonan maaf kepada keluarga dan masyarakat.
“Kami jajaran Pemerintahan sekaligus kami bersama semua pihak, tokoh agama, tokoh masyarakat yang lain, kami memastikan pranata adat dan agama harus bisa bekerja agar peristiwa ini tidak terjadi lagi kedepan, kami mohon maaf, mohon ampun,” ujar Melki Laka Lena.
Menurut Melki Laka Lena, kepergian YBR bukan hanya duka bagi keluarga dan Kabupaten Ngada, tetapi menjadi duka bersama yang dirasakan hingga tingkat nasional. Melki secara terbuka mengakui adanya keterbatasan dan kekurangan dalam pelayanan publik yang seharusnya mampu melindungi anak-anak dan keluarga rentan seperti almarhum YBR.
“Segenap jajaran pemerintahan menyadari betul bahwa masih banyak kekurangan. Ke depan, ini menjadi pengingat bagi kami untuk bekerja lebih baik, dalam pelayanan pendidikan, akses kesehatan, aspek ekonomi, hingga pengembangan potensi desa,” kata Melki Laka Lena.
Melki Laka Lena juga menegaskan pentingnya peran bersama seluruh elemen masyarakat agar tragedi serupa tidak terulang. Ia juga meminta maaf kepada masyarakat setempat karena baru dapat hadir langsung ke rumah duka beberapa hari setelah peristiwa tersebut.
Dalam kunjungan ini, Melki juga melihat langsung gubuk nenek YBR yang terletak tidak jauh dari rumah duka tepat di Desa Nenuwea dan melihat makam almarhum yang tidak jauh dari pondok.
Janji Bereskan DTSEN
Melki Laka Lena menegaskan komitmennya membenahi sistem pendataan bantuan sosial pasca meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang diduga terkait dengan kondisi kemiskinan ekstrem.
Melki Laka Lena menyoroti pentingnya pembenahan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar tidak ada lagi warga miskin yang tercecer dan luput dari bantuan pemerintah.
Melki Laka Lena mengatakan, bantuan sosial adalah hak warga miskin. Untuk itu, tidak boleh ada yang terlewat karena data tidak beres karena kepentingan tertentu.
Melki Laka Lena juga menekankan larangan keras bagi kepala desa dan aparat di tingkat bawah untuk mempolitisasi bantuan sosial. Menurutnya, perbedaan pilihan politik tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan hak atas bantuan negara.
Melki Laka Lena menjelaskan, pemerintah pusat dan daerah telah memiliki sistem pendataan melalui DTSEN, namun data tersebut harus diverifikasi secara berkala di lapangan agar tepat sasaran.
Melki Laka Lena meminta aparat desa bekerja aktif bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, tenaga kesehatan, serta guru untuk memastikan seluruh warga miskin terdata dengan benar.
“Kalau ada warga miskin yang tidak terdaftar, itu kelalaian yang harus diperbaiki. Sebaliknya, kalau ada yang tidak layak tapi masih menerima bantuan, akan kita proses dia,” tegas Melki Laka Lena.
Melki Laka Lena menegaskan, Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen memperbaiki tata kelola bantuan sosial secara menyeluruh agar lebih adil, transparan, dan berpihak pada warga miskin, khususnya mereka yang berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
Penyaluran Bantuan Sosial
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Dinas Pendidikan Provinsi NTT menyalurkan bantuan kepada keluarga almarhum YBR.
Penyerahan bantuan dilakukan oleh perwakilan Gubernur NTT yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, bersama Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKKS) SMA/SMK dan SLB Kabupaten Ngada, Ketua MKKKS SMA/SMK se-Kabupaten Ngada, serta para kepala sekolah SMA/SMK se-Kabupaten Ngada.
Secara langsung, bantuan diserahkan oleh Kepala SMA Negeri 1 Jerebu’u, Romanus Wowa, S.Pd., M.Pd, yang didampingi Kepala SMA Negeri 2 Jerebu’u, Firmina Januaria A. Dhone, S.Pd dan diterima langsung oleh ibu YBR.
Diketahui, semasa hidupnya YBR (10) tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk bambu sederhana. Dari tempat itulah ia berangkat ke sekolah setiap hari. Selain bersekolah, YBR juga kerap membantu sang nenek berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, para perwakilan pemerintah dan insan pendidikan menyampaikan belasungkawa yang mendalam serta doa agar keluarga almarhum diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan di tengah duka yang dialami.
Penjelasan Bupati Ngada
Bupati Ngada, Raymundus Bena secara tegas membantah anggapan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa kematian YBR siswa SD berusia 10 tahun, dipicu karena tidak dilayani permintaan dibelikan buku dan bulpen. Namun, ia mengakui korban berasal dari keluarga dengan kategori kemiskinan ekstrem dan hidup dalam tekanan ekonomi serta sosial yang berat.
“Perlu saya tegaskan, informasi yang menyebut korban mengakhiri hidupnya karena tidak dibelikan buku dan bulpen adalah tidak tepat. Tidak ada pernyataan dari ibu kandung maupun keluarga korban yang menyampaikan hal tersebut,” kata Raymundus.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa hingga kini motif pasti kematian korban belum dapat disimpulkan dan masih dalam proses penyelidikan pihak Kepolisian. Pemerintah daerah, kata dia, memilih tidak berspekulasi sembari menunggu hasil resmi aparat penegak hukum.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











