My WordPress Blog
Budaya  

Melukis untuk Berbicara: Agung Fadilah, Guru Disabilitas Cirebon dan 24 Karyanya tentang Indonesia

Kehidupan Agung Fadilah: Melalui Seni, Menyampaikan Pesan Persatuan

Agung Fadilah, seorang guru disabilitas asal Cirebon, menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Ia menggelar pameran tunggal lukisan bertajuk “Indonesia dan Keberagamannya” yang menampilkan 24 karya di Galeri Gramedia Grage Mal Kota Cirebon hingga 28 Februari 2026. Pameran ini menjadi wujud apresiasi terhadap dedikasi dan bakat seninya.

Media Komunikasi yang Berbeda

Bagi Agung, melukis bukan sekadar aktivitas seni. Di balik setiap guratan warna di atas kanvas, ia menyampaikan perasaan dan gagasan yang sulit diucapkan dengan kata-kata. Ini menjadi cara lain untuk berbicara dan menyampaikan pesan-pesan penting tentang Indonesia dan keberagamannya.

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah “Wanita Pesona Nusantara”. Lukisan ini dibuat pada 2023 dan berukuran 80 x 120 sentimeter. Menggunakan media akrilik dan cat minyak di atas kanvas, karya ini menampilkan lima sosok perempuan dengan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Dari kiri ke kanan, tampak perempuan mengenakan busana adat Dayak lengkap dengan hiasan kepala bulu burung enggang dan tameng tradisional Talawang, kebaya hitam khas Jawa, sosok utama dengan mahkota emas Bali (Payas Agung), perempuan dengan kain tenun khas Nusa Tenggara, hingga sosok perempuan Papua dengan riasan wajah khas.

Di bagian latar belakang, Agung menghadirkan elemen bendera Merah Putih yang berkibar dinamis, dipadukan dengan ilustrasi tokoh wayang kulit dan penari tradisional yang samar. Detail riasan wajah, tekstur kain, serta kilau perhiasan emas digarap dengan gaya realis yang halus, memperkuat pesan persatuan dalam keberagaman.

Perjalanan Panjang Seorang Guru Disabilitas

Guru Agung sejak kelas 3 SD, Bety Feria, menjelaskan bahwa melukis menjadi media komunikasi utama bagi Agung dalam menyampaikan apa yang ia rasakan. “Karena dia itu insan permata (disabilitas) dan memang kesulitan ketika untuk mengungkapkan bahasa. Sehingga dengan melukis, dia bisa mengungkapkan apa yang dirasakan melalui gambar,” ujarnya.

Menurut Bety, salah satu lukisan yang paling menantang bagi Agung adalah karya bertema perempuan, yang dibuat saat ia masih duduk di bangku SMP. “Yang ‘Perempuan’ itu karena memang ada bentuk tubuh manusia. Waktu itu dia masih SMP kelas 3, mungkin belum tahu seperti apa perempuan yang sebenarnya. Jadi dia masih meraba-raba, seperti apa sih perempuan itu,” ucapnya.

Dalam pameran ini, total 24 karya Agung dipajang dan terbuka untuk dinikmati masyarakat. Setiap lukisan merekam perjalanan panjang Agung, dari seorang siswa SLB hingga kini menjadi guru di sekolah yang sama. “Sekarang Pak Agung mengajar di SLB dan sudah bisa membawa adik kelasnya juara tingkat nasional. Ada yang juara desain grafis, ada juga yang juara melukis tingkat provinsi. Itu salah satunya berkat bantuan Pak Agung,” jelas dia.

Apresiasi dari PGRI Kota Cirebon

Pameran tunggal tersebut diinisiasi oleh PGRI Kota Cirebon sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan prestasi Agung di dunia pendidikan dan seni. Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto, mengungkapkan bahwa pameran ini merupakan realisasi janji yang pernah ia sampaikan kepada Agung. “Saya sudah berjanji ke Pak Agung. Ini bentuk kebanggaan kami, bentuk kekaguman kami terhadap rekan kami, Pak Agung. Beliau adalah guru istimewa yang memiliki talenta luar biasa,” katanya.

Menurutnya, kesuksesan Agung bukan hanya milik pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan organisasi. “Kami merasa punya kewajiban untuk mengangkat potensi yang dimiliki Pak Agung. Karena kesuksesan beliau adalah kebanggaan bagi kami semuanya,” ujarnya.

Eka menyebutkan, sekitar 20 lukisan dipamerkan dalam kegiatan tersebut, meskipun koleksi karya Agung di rumah jumlahnya lebih banyak. “Sebenarnya di rumah masih banyak lukisan, tapi karena keterbatasan ruang, jadi kami batasi karya yang dipamerkan hari ini,” ucap Eka.

Acara Pembukaan yang Meriah

Pameran lukisan Agung Fadilah dijadwalkan berlangsung mulai 9 hingga 28 Februari 2026. “Dari tanggal 9 sampai 28 Februari, tempat ini dijadikan lokasi pameran karya-karya Pak Agung,” jelas dia.

Pembukaan pameran turut dihadiri pejabat Pemerintah Kota Cirebon, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Hadir pula para guru, mentor, serta perwakilan pelajar dari SMAN 6 Cirebon.

Acara pembukaan semakin semarak dengan penampilan dua siswa SLB Negeri Budi Utama, Katon Wiranata dan Adi Haris, yang menyanyikan lagu “Sedia Aku Sebelum Hujan”.

Dalam kesempatan itu, Agung juga melukis secara langsung penari Topeng Kelana khas Cirebon, berlatar ikon wisata dan kuliner daerah seperti Goa Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, Masjid Raya At-Taqwa, nasi jamblang, dan empal gentong.

Melalui kanvas dan warna, Agung Fadilah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, mengajar, dan berbicara tentang Indonesia.




Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *