My WordPress Blog

Langkah Berani Mengubah Limbah Plastik

Masalah Sampah di Bali dan Inovasi Pengolahan Plastik Menjadi BBM

Masalah sampah di Pulau Dewata, Bali, kini menjadi perhatian utama dari berbagai pihak. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Jawa Barat, Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya upaya yang lebih masif dan agresif untuk mengatasi limbah tersebut. Sorotan ini bukan hanya sekadar kritik, tetapi juga menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera berbenah demi menjaga reputasi pariwisata Indonesia.

Tidak lama setelah pernyataan tersebut, berbagai pihak di Bali langsung merespons dengan aksi bersih-bersih massal. Salah satu contohnya adalah pembersihan pantai di objek wisata Pantai Kuta, Kabupaten Badung. Ribuan orang dari TNI, Polri, instansi pemerintah daerah, komunitas lingkungan, hingga pelajar turut serta dalam kegiatan ini. Gubernur Bali Wayan Koster juga merespons dengan rencana pembentukan satuan tugas khusus kebersihan pantai.

Namun, persoalan sampah di Bali tidak hanya terbatas pada garis pantai. Limbah ini juga menyebar ke lingkungan permukiman, baik di perkotaan maupun perdesaan. Masalah semakin rumit karena Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung di Denpasar sudah melebihi kapasitas penampungan. Data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali menunjukkan bahwa rata-rata volume sampah di Bali mencapai 3.436 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 60% adalah sampah organik, sedangkan 17% adalah plastik.

Solusi Inovatif dari Masyarakat

Di tengah angka-angka yang mengkhawatirkan ini, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama. Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Selama ini, masyarakat masih memandang plastik bekas sebagai limbah tak berguna. Padahal, melalui teknologi dan kreativitas, plastik bisa diubah menjadi energi alternatif.

Salah satu organisasi yang aktif dalam hal ini adalah Yayasan Get Plastic Indonesia yang berada di Sibang Kaja, Kabupaten Badung, Bali. Mereka mencoba mengubah pola pikir masyarakat melalui inovasi menyulap sampah plastik menjadi BBM. Ketua Yayasan Get Plastic Indonesia, Dimas Bagus Wijanarko, menjelaskan bahwa ide ini lahir dari kekhawatiran akan masalah plastik yang belum terselesaikan.

Sejak tahun 2013, tim mereka fokus melakukan riset untuk memproduksi BBM menggunakan teknologi pirolisis. Pirolisis adalah metode pemanasan bahan tertentu, seperti plastik, dengan suhu tinggi di atas 350 derajat Celsius dalam kondisi tanpa oksigen. Mereka merakit mesin pengolah sampah plastik secara otodidak. Saat ini, mereka memiliki tiga unit mesin dengan kapasitas olah lima, 10, dan 20 kilogram.

Mesin berkapasitas sepuluh kilogram memiliki ukuran yang ringkas, yaitu 125 cm x 56 cm x 160 cm, sehingga mudah dipindahkan. Meskipun belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) secara utuh, semua komponen penyusun mesin tersebut sudah ber-SNI. Mesin ini dilengkapi tabung kondensor, dua unit reaktor, serta wadah penampungan air untuk proses pendinginan.

Cara kerjanya cukup sederhana namun presisi. Sampah plastik kering, mulai dari botol kemasan, tas kresek, hingga sedotan, dimasukkan ke dalam tabung reaktor hingga penuh tanpa menyisakan ruang hampa. Hal ini krusial untuk memastikan tidak ada oksigen di dalam tabung. Plastik yang dipanaskan hingga suhu tinggi akan berubah menjadi gas, lalu ditangkap oleh tenaga mekanik dan ditransfer ke kondensor menjadi uap. Uap tersebut kemudian berubah menjadi cairan likuid yang dapat dikonversi menjadi bensin, solar, atau minyak tanah melalui proses fraksinasi.

Dalam waktu sekitar tiga jam, keran mesin akan mengalirkan BBM siap pakai. Untuk sepuluh kilogram sampah plastik, tim mampu menghasilkan sekitar sepuluh liter solar. Hingga saat ini, total produksi mereka diperkirakan telah mencapai 5.000 liter per tahun.

Hebatnya, proses ini hampir tanpa sisa karena residu berupa bubuk karbon dapat diolah kembali menjadi suvenir atau briket. Kualitas BBM hasil olahan ini pun tidak main-main. Hasil uji laboratorium menunjukkan angka cetane untuk bensin mencapai 92,3, sedangkan solar mengandung 63% angka cetane. Emisi yang dihasilkan pun tergolong rendah, yakni hanya 2,7% berdasarkan pengujian di Yogyakarta.

Visi Masa Depan

Visi Dimas ke depan adalah melihat inovasi ini diproduksi secara massal untuk menekan pencemaran lingkungan. Langkah ini pun mendapat apresiasi dari pihak Pertamina Patra Niaga Wilayah Jatimbalinus yang melihat potensi sinergi melalui program tanggung jawab sosial lingkungan. Dukungan investasi dan keberanian sangat dibutuhkan agar teknologi semacam ini tidak hanya berhenti di tingkat komunitas, tetapi menjadi solusi nasional dalam mewujudkan kemandirian energi sekaligus menyelamatkan ekosistem Bali dari kepungan sampah plastik.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *