Susilo Bambang Yudhoyono, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Sus, dikenal sebagai sosok yang setia kepada teman. Bahkan, dia pernah menjual sepeda demi memenuhi kebutuhan makan temannya dan aktif dalam bermain musik.

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

Intisari-Online.com –
Banyak orang mengenal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai sosok yang berwibawa dan bersahaja, lalu menjadi Presiden Republik Indonesia ke-6. Namun, bagaimana kisah masa kecilnya saat masih tinggal di desa, yaitu Pacitan, Jawa Timur?
INTISARI mencoba menggali informasi dari penuturan beberapa orang terdekatnya pada masa itu.
Saat itu menjelang akhir 2004. Rumah tua bercat putih itu terletak di Kampung Blumbang, Kelurahan Ploso, di tengah Kota Pacitan. Modelnya joglo, seperti rumah-rumah kelas menengah di pedesaan di Jawa pada umumnya. Berdinding bata merah bercampur gedek (anyaman bambu) dengan tiang-tiang kayu jati yang sudah gompal di sana-sini. Langit-langitnya tak berplafon sehingga genting dengan tambalan-tambulan plastik di beberapa sisinya bisa terlihat. Halamannya luas dan bertanah pasir.
Tidak ada yang tahu persis sejak kapan rumah itu didirikan. Yang jelas, sejak si empunya rumah, Sastro Soejitno, dilahirkan pada 1911, bentuknya sudah seperti itu. Di kampung inilah Sastro Soejitno menjabat sebagai kepala desa selama 40 tahun.
Buku, buku, dan buku
Di rumah sederhana itulah Sus, demikian SBY dipanggil oleh sanak keluarga, melewati sebagian masa kecil dan remaja. Dia tinggal di rumah Soejitno semenjak kelas 5 Sekolah Rakyat (SR). Dia dititipkan pada keluarga Soejitno yang masih terhitung pakde-nya (pamannya) itu lantaran sang ayah, Raden Soekotjo yang menjabat komandan rayon militer berpangkat Pembantu Letnan Satu alias Peltu, harus sering berpindah tugas ke pelosok-pelosok daerah. Tak ada pilihan bagi Sus, sebab sekolah menengah negeri saat itu hanya ada di Pacitan.
Sus menempati sebuah kamar berukuran 2,25 x 1,80 m, yang terletak di sebelah kanan depan rumah. Kamar itu begitu mungil sehingga hanya cukup untuk dimuati sebuah dipan kayu dan meja belajar. Tanpa kursi, tanpa lemari. Sebuah kapstok baju model kuno dari kayu jati yang sudah copot salah satu kaitannya terpasang di sudut dinding.
“Rumah ini, juga kamar Dik Sus, dari dulu keadaannya seperti ini. Tidak ada perubahan. Ya, memang kami keluarga sederhana saja,” begitu kata Endang Widowati, putri sulung Sastro Soejitno, yang di hari tuanya dipercaya mengurus rumah itu. Berarti Endang Sus adalah saudara sepupu.
Meski tetap dirawat, rumah itu sudah tidak ditinggali lagi. Pada beberapa kesempatan, pendoponya yang luas pernah dijadikan tempat pertemuan para pengurus DPC Partai Demokrat Pacitan.
Di tengah iklim kebersahajaan dan kemandirian keluarga Sastro Soejitno itulah, Sus mengarungi masa kecilnya. Meski anak tunggal, dia tidak jadi anak manja atau diistimewakan. Segala keperluan pribadi diurusnya sendiri, termasuk mencuci dan menyetrika baju. Bahkan, dia ikut pula membantu keluarga pakde-nya mengurus rumah. Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, dia kebagian tugas menimba air.
Dalam ingatan Watini, istri Sastro Soejitno (ketika diwawancara INTISARI berusia 80 tahun), Sus adalah anak yang biasa-biasa saja seperti anak desa umumnya. Sikap dan perilakunya baik. Taat beragama. Soal makan juga tidak pernah rewel. Karena itu jika ditanya apa makanan kegemaran Sus semasa kecil, dia sulit menjawabnya. Apa pun yang disediakan di meja makan akan disantapnya.
“Baru setelah besar kita tahu kesenangan Sus itu kupat (ketupat – Red.), soto yang dicampur kacang tanah, dan jatilan kelong (anak ikan hiu yang diasap). Semuanya makanan khas Pacitan,” tutur kakak kandung Raden Soekotjo ini.
Satu hal yang paling diingat keluarga Sastro Soejitno adalah kegemaran Sus akan buku. Dalam kesempatan apa pun di rumah, dia tidak pernah lepas dari buku, baik buku pelajaran, buku cerita, atau komik pewayangan. Bahkan tak jarang, sambil makan dia masih membaca. Di dalam kamar, tak ada lain yang dikerjakannya selain membaca, sambil sesekali mengunyah kacang goreng sebagai camilan favoritnya dan segelas teh manis.
Bisa jadi karena kebiasaan itulah, Bambang – panggilan teman-temannya – tergolong murid pandai di sekolah. Saat itu memang belum dikenal sistem ranking. Tak diketahui apakah dia termasuk juara kelas pada saat itu. Hanya saja, semasa duduk di bangku SMA jurusan ilmu pasti, Bambang sering diminta mengajari teman-temannya dalam beberapa pelajaran sulit seperti goniometri, stereometri, analit, atau bahasa Inggris. Bukan cuma di dalam kelompok belajar, bahkan saat kelas kosong karena tidak ada guru pun dia sering tampil di muka kelas.
“Bisa dikatakan saat itu Bambang tidak belajar. Tidak menambah ilmu buat dirinya. Tapi malah mengajari kami yang kesulitan pelajaran,” kenang Suhardjito, salah satu teman Bambang semasa di SMA tapi berbeda jurusan. “Tapi dia malah senang saja. Tidak keberatan sama sekali. Malah kami yang merasa tidak enak.”
Bambang dan teman-temannya punya kenangan tersendiri pada saat awal bersekolah di SMA. Karena baru dua tahun didirikan, SMA Negeri Pacitan belum punya gedung sendiri sehingga masih menumpang di gedung SPG dan Balai Desa. Beruntung sang kepala sekolah, Kusnojo, termasuk kreatif. Dengan meminjam truk yang dikemudikan sendiri, dia mengajak anak-anak mencari batu kali. Secara bergiliran mereka juga membuat bata merah.
“Bahkan ada satu ruang kelas yang diplester oleh anak-anak sendiri. Soal hasil, ya bergelombanglah…,” kenang Prajitno, teman Bambang yang lain, yang kelak menjadi kepala sekolah di SMA tempatnya belajar dulu itu.
Pemain bas betot
Selain cerdas dan aktif, rasa kesetiakawanan adalah satu hal yang dikenang teman-teman Bambang semasa muda. Meski dikenal tekun belajar, bukan berarti pemuda kurus, tinggi, dan berkulit kuning bersih itu cuma berurusan dengan persoalan seputar pelajaran. Di luar rumah, Bambang aktif dalam kegiatan olahraga, terutama voli. Bersama teman-teman gaulnya di Arjowinangun, dia tergabung dalam perkumpulan voli Klub Rajawali.
Karena postur tubuhnya yang cukup tinggi, Bambang dikenal sebagai pemain andal. Smash-nya keras dan lurus sehingga jarang bisa ditangkis lawan. Perkumpulan ini tak jarang bertanding ke kecamatan-kecamatan tetangga yang berjarak puluhan kilometer. Semua itu ditempuh dengan berjalan kaki karena tidak ada angkutan umum.
Saat di SMP, Bambang juga sempat aktif di kegiatan kesenian seperti teater, menulis, melukis, dan musik. Dia bergabung dengan sanggar seni Dahlia Pacitan dan sempat bermain di beberapa pentas di Balai Desa. Soal melukis sempat pula ditekuninya selama beberapa waktu.
Dari beberapa kegiatan kesenian itu, kemampuan Bambang dalam menulis justru terlihat menonjol. Sebuah bakat yang terus diasahnya sampai sekarang. Tulisan dalam bentuk puisi dan cerpennya pernah dimuat di Majalah Si Kuncung. Dia juga memprakarsai berdirinya majalah dinding sekolah. Bakat ini merupakan keturunan dari ayahnya yang sering menulis syair-syair bernapaskan spiritual.
Semasa di SMP pula Bambang sempat kumpul-kumpul dengan kelompok musik Gaya Teruna. Sebuah band bocah yang mengisi beberapa acara di Pacitan. Berawal dari sinilah, saat SMA dia lalu membentuk grup musik sendiri dan memainkan gitar bas sambil sesekali jadi vokalis. Mendengar kegiatan Bambang, keluarganya sempat terheran-heran, dari mana dia mempelajari semua itu?
Peralatan musik yang dipakai sangat sederhana dan pinjaman pula. Bas yang dimainkan Bambang pada awalnya adalah bas betot untuk keroncong. Untuk tata suara, Bambang dan temannya harus kreatif mengakali bermacam peralatan yang ada. Spul yang dihubungkan ke gitar, misalnya, memakai mikrofon bekas telepon. Kemudian pengeras suaranya menggunakan speaker dari radio transistor. Rakitan serba darurat itu mereka istilahkan stil tempel.
Meski ala kadarnya, Bambang dan teman-temannya tetap pede membawakan lagu-lagu yang sedang top di radio saat itu. Seperti milik Koes Bersaudara, Dedi Damhudi, The Beatles, atau Everly Brothers. Mereka rajin menyimak saat lagu-lagu itu disiarkan RRI Jakarta, RRI Yogyakarta, atau RRI Solo. Kalau ada lagu baru yang diputar, mereka sama-sama mencatat dan menghapalkan.
SMA Negeri Pacitan baru mempunyai peralatan musik yang memadai setelah mendapat sumbangan dari Gubernur Jawa Timur saat itu, Mohammad Wiyono. Peralatan bekas milik TNI AL itu merupakan alat musik terlengkap pertama di Pacitan.
Yang mengagumkan, meski sudah puluhan tahun tidak memegang bas, SBY rupanya tetap bisa memainkannya dengan baik.
Sepedanya dijual
Bersama teman-teman bermusiknya inilah Bambang bersahabat kental, bahkan sampai sekarang. Kesulitan hidup pada masa lalu telah mempererat ikatan pertemanan mereka. Saat itu, selain memang zamannya rawan pangan, geng mereka sering tongpes, alias tidak punya duit.
Grup musik SMA itu kerap tampil menghibur di sebuah acara, hanya sekadar untuk mendapatkan makanan sedikit enak. Kalau ada makanan lebih, mereka simpan untuk sarapan esoknya. Pendeknya, hidup saat itu serba susah.
Pada saat-saat seperti itu Bambang menunjukkan sikap kesetiakawanannya. Meski hidupnya tidak sesulit teman-temannya, karena anak tunggal dari seorang pegawai negeri, dia tidak tega melihat kesulitan teman. Suatu kali dia menjual berko (lampu) sepedanya hanya agar teman-temannya bisa makan saat berkumpul. Di lain waktu, menyusul dinamonya yang dijual. Akhirnya, sepedanya pun sekalian dilego.
Jika akan naik pentas, Bambang juga sering membawa dua stel pakaian tambahan untuk dipinjamkan kepada teman-temannya yang tidak punya. Agar teman-temannya tak kalah keren dengan dirinya. “Jiwa sosialnya memang dikenal tinggi,” kenang Suhardjito.
Pedang pasar malam
Jika kita menyimak peta, kampung halaman SBY memang hanyalah sebuah kota kecil. Letaknya pun terpencil di pesisir selatan Pulau Jawa. Dikelilingi pegunungan batu dan kapur yang membentang dari Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga ke Banyuwangi di Jawa Timur. Di selatan ada Samudera Hindia yang luas dengan ombaknya yang ganas.
Dengan topografi seperti itu, masyarakat bertahan hidup dengan mengandalkan hasil alam yang tidak seberapa. Meski ada persawahan padi, di daerah dataran tinggi dan tandus, tanaman yang umum dikembangkan adalah ubi kayu dan kelapa.
Karena itu kota ini pernah mendapat sebutan sebagai Kota Gaplek. Gaplek adalah ubi kayu yang dikeringkan. Masyarakat juga pernah mengandalkan tiwul yang berbahan gaplek untuk makanan pokok sehari-hari.
Kenyataan itu membuat tekad Sus semakin bulat untuk menjadi tentara. Setelah lulus SMA, dia mencoba masuk Akabri Udarat (Umum – Darat, kini Akademi Militer) melalui Malang. Setahun kemudian diterima. Saat itu tidak ada teman satu daerahnya yang berhasil mengikuti jejaknya hingga lulus.
Cita-cita Sus itu juga dilandasi pengalaman masa kecilnya. Saat kelas 3 SR dan tinggal di Kebonagung, dia pernah melihat tentara sedang berlatih perang. Dia amat kagum pada seragam tentara yang berbalut tanaman untuk kamuflase. Dalam pandangan seorang anak kecil, rasanya gagah melihat seseorang berpakaian perang dan menembak.
Sewaktu kelas 5 SR, Sus diajak ayahnya ke Yogyakarta untuk melihat keraton dan pasar malam Sekaten. Keluarga itu sempat mampir ke Akademi Militer Nasional di Magelang dan di situlah Sus melihat para taruna sedang pesiar. Saking kagumnya, ketika di pasar malam dia minta dibelikan pedang-pedangan kayu agar mirip tentara.
Saat menjadi taruna Akabri, dalam kesempatan liburan pendek, Sus selalu pulang ke Pacitan untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya. Dia pun selalu menyempatkan diri tidur di rumah keluarga pakde-nya. Kebiasaan ini bahkan masih berlanjut sampai Sus menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Menurut Endang, tidak ada yang berubah dalam diri Sus. Rasanya, masih seperti tahun-tahun 1960-an, saat mereka masih berkumpul bersama dalam satu rumah.
Dari Pacitan langkah Sus, Bambang, atau SBY, kemudian menuju Magelang, lalu Ibu Kota, lalu ke Istana Merdeka. Tak hanya satu periode, Sus menjadi Presiden RI selama dua periode, dari 2004 hingga 2014.











