
Budaya Populer Global: Perkembangan dan Pengaruhnya dalam Berbagai Abad
Budaya populer global merujuk pada kumpulan nilai, kepercayaan, praktik, objek yang memperoleh realisasi pengadopsian secara luas dari warga dunia. Teristimewa mereka yang sudah mempunyai literasi dan mengakrabi media dan teknologi digital. Dewasa ini, fenomena sedemikian nyaris semakin meniadakan (untuk menyebut lebih dari sekadar mengaburkan) batas kultural antarbangsa lewat interaksi instan dan masif.
Budaya populer global dalam tautan pengertian yang lebih konkret, merujuk artian pada suatu pertukaran atau pengadopsian secara luas berbagai elemen budaya, seperti musik, film, mode, dan hiburan. Proses keberlangsungan pertukaran atau pengadopsian itu terjadi di masyarakat lintas negara di seantero jagat melalui perantara kemajuan teknologi dan media. Elemen-elemen budaya populer itu diproduksi dan didistribusikan di pasar global serta dikonsumsi secara massal oleh masyarakat di seantero jagat.
Abad Ke-19
Berdasarkan tilikan sejarah, term “budaya populer” hadir pada abad ke-19. Ia lahir dari adanya transformasi besar akibat Revolusi Industri, urbanisasi, dan peningkatan literasi masyarakat kelas pekerja. Masa itu menjadi tonggak awal dari adanya tindakan memproduksi hiburan secara massal. Para penikmatnya pun bukan hanya kaum eliite, melainkan khalayak yang lebih luas.

Budaya populer abad ke-19, berangkat dari ledakan literasi dan media cetak. Dengan adanya temuan mesin cetak uap membawa angin segar bagi peletakan fondasi bagi kemajuan teknologi percetakan pada masa itu. Biaya cetak buku dan surat kabar pun menjadi kian terjangkai untuk seluruh strata sosial masyarakat. Hal ini bergayung sambut dengan kian banyak anggota masyarakat yang tersentuh literasi alias melek huruf.
Untuk memenuhi rasa dahaga masyarakat akan bahan bacaan dan informasi yang tengah berlangsung di lingkungan sekitar mereka, pada masa itu muncul penny press, surat kabar murah seharga satu sen yang menghidangkan berita kriminal, gosip, atau kejadian keseharian. Di samping itu, ada pula penny dreadfuls, novel serial petualangan atau horor yang terbit tiap bab tiap minggu yang sangat populer di kalangan kelas menengah bawah karena keramahan harganya.
Pada saat itu ada tokoh ikonis, penulis seperti Charles Dickens (7 Februari 1812 – 9 Juni 1870), yang namanya melambung dalam percaturan budaya populer di masa itu berkat karya-karyanya yang terbit secara berseri dan menjadi bacaan yang memenuhi selera mayoritas massa. Sementara itu, ada pula hiburan panggung dan teater massa, yang tidak lagi menjadi konsumsi eksklusif kaum bangsawan, tetapi tiket masuknya juga dapat terjangkau warga kota kebanyakan.
Bila di Britania Raya ada music hall, maka di Amerika Serikat ada vaudeville, suatu pertunjukan yang meliputi nyanyian, komedi, akrobat, dan sulap. Hadir pula dalam khazanah budaya populer ada ke-19, pertunjukan melodrama, teater dengan mengandalkan plot dramatis, pengarakteran hitam dan putih secara jelas tegass (pahlawan versus penjahat), berikut iringan musik yang begitu emosional. Genre ini laris manis di pasaran. Ada lagi sirkus yang populer sebagai tontonan spektakuler yang menyerukan tampilan keajaiban dan keanehan (freak show).
Budaya populer dekat dengan budaya konsumen. Berkat kelahiran industrialisasi yang menciptakan berbagai barang konsumsi sehingga masyarakat luas dapat membelinya. Ada tersedia departmen store, toko serbaada, seperti Le Bon Marché di Paris, Prancis atau Macy’s di New York, Amerika Serikat yang mengoleskan makna kegiatan belanja dari sekadar pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari menjadi aktivitas yang berlabel rekreasi.
Sementara itu, pemakaian poster berwarna dan pemuatan iklan di surat kabar mulai memicu pembentukan tren mode dan gaya hidup masyarakat dalam tarikan skala yang massal. Di bidang olahraga, abad ke-19 membuka tarikh transisi eksistensinya dari sekadar permainan rakyat yang belum memiliki keteraturan regulasi, bergerak menuju ke kompetisi profesional dengan raut pengaturan secara formal.
Cabang olahraga sepak bola dan rugbi mulai membenahi diri dengan pembakuan regulasi aturan main di Britania Raya pada pertengahan abad ke-19. Dalam pada itu, bisbol yang tumbuh menjadi “permainan nasional” di Amerika Serikat dengan pengelolaan tatanan regulasi yang lebih terbentuk pada titimangsa yang hampir sama.
Terikut ke dalam ranah budaya populer di abad ini, yaitu pameran inovasi teknologi. Kemajuan teknologi pada masa itu menjadi subjek pameran sebagai tontonan budaya. Contohnya Great Exhibition 1851 sebagai ajang pameran tingkat internasional perihal kepesatan laju perjalanan industri dan budaya dari seantero jagat yang terbuka bagi publik pemerhati yang berasal dari belahan berbagai wilayah di Planet Bumi.
Hasil temuan kamera berikut alat perekam suara dari Thomas Alva Edison (11 Februari 1847 – 18 Oktober 1931) pada akhir abad ke-19 mulai menancapkan perubahan pada cara orang menikmati seni dan musik di ranah pribadi.
Selebihnya, urbanisasi telah menciptakan kebutuhan akan ruang terbuka untuk sarana dalam bersosialisasi. Pembangunan Central Park di New York, Amerika Serikat yang mulai beroperasi secara bertahap pada 1859, menyediakan ruang bagi warga kota untuk melakukan kegiatan jalan-jalan atau sekadar bersantai di waktu senggang mereka.
Dengan adanya jaringan kereta api dengan tiket ramah di kantong, mulai ada dalam konsepsi kebutuhan masyarakat kelas pekerja untuk mengadakan perjalanan wisata singkat ke resor tepi laut, seperti Blackpool, Britania Raya atau Coney Island, Amerika Serikat.
Abad Ke-20

Raut perkembangan budaya populer abad ke-20 menunjukkan adanya dinamika yang jauh lebih masif daripada abad sebelumnya. Hal ini berkat dorongan kemajuan teknologi elektronik, mulai dari radio, televisi, hingga internet. Proses mendunia, globalisasi, kian lebih lempang pengaksesannya. Pertukaran informasi, gagasan, budaya, teknologi, dan ekonomi lintas negara di permukaan Planet Bumi pun ķian menegaskan intensitasnya. Bila abad ke-19 adalah era budaya cetak, maka abad ke-20 adalah era budaya visual dan audio massal.
Adapun tahapan dan elemen kunci perkembangan budaya populer abad ke-20, berawal dari era radio dan sinema (1900-an hingga 1940-an). Hiburan dapat diakses di dalam rumah atau lewat sajian pertunjukan di layar lebar. Hollywood berada di zaman keemasan, film bisu berganti ke film bersuara (talkies). Menghadirkan bintang film global pertama, seperti Charlie Chaplin (16 April 1889 – 25 Desember 1977) dan Marilyn Monroe (1 Juni 1926 – 4 Agustus 1962).
Film-film populer Charlie Chaplin yang ikonik, antara lain The Gold Rush (1925), City Lights (1931), Modern Times (1936), dan The Great Dictator (1940). Sementara itu, film-film populer Marilyn Monroe, seperti Gentlemen Prefer Blondes (1953), The Seven Year Itch (1955), Niagara (1953), dan How to Marry a Millionaire (1953).
Kebutuhan akan informasi dan hiburan dipenuhi dari keberadaan radio. Di sini tersaji musik jazz, genre populer pertama yang menghilangkan batasan ras dan kelas di Amerika dan Eropa. Juga ada sandiwara serta berita-berita tentang peristiwa aktual.
Era selanjutnya, revolusi televisi dan Rock ‘n’ Roll (1950-an hingga 1960-an). Setelah Perang Dunia II (1939 – 1945) muncul kelas menengah baru. Televisi menjadi pusat perhatian di ruang tamu. Sajian menu acaranya, seperti berita dapat membentuk opini publik. Tren gaya berbusana pun bisa dibentuk lewat tayangan fesyen yang tengah menjadi primadona tren. Dan, lewat iklan visual produk-produk makanan dan minuman mengintroduksi gaya hidup konsumerisme.
Untuk kali pertama, remaja mendapat pengakuan sebagai kelompok konsumen yang tersendiri. Hadirlah genre musik yang populer dengan penyanyi legendaris Elvis Presley (8 Januari 1935 – 16 Agustus 1977). Penampilannya pada 1950-an menyebabkan Elvis hysteria, kegilaan massal penonton (terutama remaja wanita) hingga menjerit, menangis, pingsan, dan menyerbu panggung.
Lagu-lagu terbesar Elvis Presley seperti “Suspicious Minds” (1969), “Trouble” (1958), “Can’t Help Falling in Love” (1961), “If I Can Dream” (1968), “(You’re The) Devil In Disguise” (1968), “Jailhouse Rock” (1957), “Burning Love” (1972), “Always On My Mind” (1972), “Hound Dog” (1956).
Juga The Beatles (1960 – 10 April 1970) dengan personel seperti John Lennon (gitar pengiring, vokal) [9 Oktober 1940 – 8 Desember 1980], Paul McCartney (gitar bass, vokal) [lahir 18 Juni 1942] George Harrison (gitar melodi, vokal) [25 Februari 1943 – 29 November 2001], Ringo Starr (drum, vokal) [lahir 7 Juli 1940]. Penampilan mereka mengundang histeria massa Beatlemania.
The Beatles mempunyai deretan lagu legendaris yang mendefinisikan sejarah musik pop, dengan hits abadi seperti “Hey Jude” (1968), “Let It Be” (1970), “Yesterday” (1965), “Come Together” (1969), dan “Here Comes the Sun” (1969). Karya-karya ikonik lainnya, yakni “I Want to Hold Your Hand” (1963), “Strawberry Fields Forever” (1967), “Blackbird” (1968), serta “She Loves You” (1963).

Pada 1960-an muncul gerakan Hippie di Amerika Serikat. Ia menampik nilai-nilai materialistis dan konformitas. Mendukung slogan “Make love, not war” yang menyimbolkan keinginan kuat untuk menggapai perdamaian, cinta, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan, khususnya untuk menentang keterlibatan langsung Amerika Serikat dengan pengiriman tentara ke dalam Perang Vietnam mulai 1955 di bawah Presiden Dwight David Eisenhower (1953 – 1961).
Di samping itu, gerakan Hippie menganut prinsip kebebasan pribadi. Acapkali memelihara rambut panjang sebagai penandanya. Mengenakan pakaian berwarna-warni (tie-dye). Gaya hidup komunal sebagai protes terhadap kemapanan. Hippie menerima pengaruh subkultur Beatnik, gerakan kontra budaya tahun 1950-an pimpinan penulis seperti Jack Kerouac dan Allen Ginsberg. Gaya hidup bohemia, pakaian hitam minimalis, baret, dan penolakan terhadap materialisme.
Para penganut gerakan Hippie juga gemar mendengarkan musik psikedelik. Genre musik tahun 1960-an yang memungut inspirasi dari pengalaman psikedelik (perubahan persepsi, halusinasi, kesadaran terfokus). Tampak pemakaian instrumentasi beragam dan efek suara. Juga lirik abstrak guna menghadirkan suasana seperti mimpi atau kesurupan (trance). Subgenrenya mencakup psychedelic rock, folk, dan penonjolan pop.
Di samping itu, pun ada protes sosial sebagaimana tecermin seperti dalam Festival Woodstock (Woodstock Music and Art Fair) pada 15 – 18 Agustus 1969. Kegiatan seni ini menjadi simbol protes sosial karena mempersatukan jutaan kawula muda pada saat itu dalam gerakan anti-Perang Vietnam, mempromosikan idealisme perdamaian, menjunjung tinggi cinta dan kebersamaan. Berikut melawan nilai-nilai konservatif lewat musik, gaya hidup Hippie, menolak materialisme. Serta, menjadikannya wadah ekspresi yang kuat untuk perubahan sosial di tengah kecamuk gejolak politik dekade 1960-an.
Budaya populer global abad ke-20 juga melewati era warna, dDsko, dan budaya Blockbuster (1970-an hingga 1980-an). Muncul dukungan teknologi canggih sehingga hiburan lebih terfragmentasi, terbagi-bagi. Medio hingga akhir 1970-an adalah masa transisi ketika televisi berwarna mulai masuk ke ranah pengenalan dan penggunaan sekalipun belum merata.
Budaya populer abad ke-20 pada 1970-an juga mendapat sentuhan gereget musik Disko. Konon genre ini bermuasal dari klub malam New York. Dengan ritme empat ketukan kuat, bass funky, dan aransemen orkestra, seolah menjadi suara inklusif komunitas yang termarginalkan.
Berikut genre penerusnya, House dan Techno pada awal 1980-an. Ada pengaruh dari Disko, Funk, dan musik elektronik Eropa seperti Kraftwerk. Tahun 1970-an menjadi era kebangkitan Disko dan Synth Pop yang membentuk landasan fondasi bagi House di Chicago dan Techno di Detroit yang fokus pada ritme mesin dan suara elektronik.
Pada 1970-an pun hadir gerakan budaya Hip-Hop di kalangan Afrika Amerika dan Latin Amerika. Hip-Hop dari jalanan New York, tumbuh menjadi budaya dominan global yang memengaruhi musik, fesyen (streetwear), dan bahasa. Terdiri atas empat elemen utama. Pertama, rapping (MCing), gaya vokal ritmis yang memadukan ujaran berirama, rima, bahasa urban keseharian, ada iringan musik Hip-Hop atau ketukan (beat).
Kedua, djing, kependekan dari disc jockeying, seni memilih dan memainkan rekaman musik untuk audiens. Menggabungkan sejumlah lagu, mengontrol tempo, ritme, dan beat. Serta, menambahkan efek looping (pengulangan) atau scratching (menciptakan suara ritmis). Di samping itu, juga ada yang memanfaatkan turntable (pemutar piringan hitam) dan mixer guna menghidangkan komposisi baru terutama dalam genre Hip-Hop.
Ketiga, breakdancing, gaya tari jalanan yang turut hadir sebagai bagian yang memeriahkan gerakan Hip-Hop di antara anak-anak muda Afrika – Amerika dan Puerto Rico yang berlangsung secara gegap gempita di bagian selatan New York City pada 1970. Lazim tarian itu mendapat iringan lagu Hip-Hop, Rap, dan yang mendapat sentuhan aransemen ulang.
Keempat, grafiti. Sangat identik dengan gerakan Hip-Hop sebagai “tulisan” untuk mengucapkan ekspresi diri lewat cat semprot di ruang publik. Sering menggunakan nama samaran (tag), gaya unik, berikut pesan politik atau sosial. Ada semangat pemberontakan dan kreativitas budaya di dalam grafiti.
Pada kurun waktu hampir bersamaan, selain musik Hip-Hop juga hadir musik Disko. Terutama pada medio hingga pengujung akhir dekade 1970-an. Kendati Hip-Hop acapkali menjadi singgahan anggapan sebagai reaksi perlawanan terhadap musik Disko yang populer di klub-klub malam mewah, keduanya saling menjalin pengaruh.
Disko sedikit lebih dahulu meraih popularitasnya pada awal dekade 1970-an di klub-klub malam. Sementara itu, Hip-Hop lahir dari pesta-pesta blok (block parties) di Bronx, New York City di bawah kepeloporan Disk Jockey Kool Herc pada kisaran Agustus 1973. Pada masa awal, disk jockey Hip-Hop kerap menggunakan rekaman Disko dan Funk untuk mengambil bagian instrumentalnya, sehingga penari (b-boy) dapat berdansa.
Gaya Hip-Hop awal yang mendapat perekaman secara komersial, publik mengenalnya sebagai Old School atau Disco-Rap yang muncul dari 1973 hingga 1983.
Disco-Rap lebih akrab dengan masyarakat kelas menengah dan atas. Hip-Hop karib dengan komunitas Afrika Amerika, Latin, dan Karibia. Ia hadir sebagai alternatif budaya yang lebih menggema di keheningan perumahan rakyat miskin.
Dengan perkataan lain, Disko telah menjadi induk musik dansa yang menancapkan kuku-kuku dominasi di arus utama, manakala Hip-Hop mulai bangkit menjadi budaya jalanan alternatif pada periode waktu yang bersinggungan.
Sementara itu, pada sisi lain blantika genre pop mendewasakan popularitas nama Michael Jackson (29 Agustus 1958 – 25 Juni 2009) yang tersohor dengan julukan King of Pop. Pemilik gerakan tari Moonwalker dalam performa panggungnya ini memiliki banyak lagu legendaris yang mendominasi tangga lagu global, terutama dari era album Thriller (1982), Bad (1987), dan Dangerous (1991). Lagu-lagu tersohornya meliputi “Billie Jean” (1982), “Thriller” (1982), “Beat It” (1982), “Smooth Criminal” (1987), balada “Man in the Mirror” (1987), “Black or White” (1991).
Juga nama Madonna (lahir 16 Agustus 1958) yang lengkapnya Madonna Louise Ciccone pemilik julukan Queen of Pop. Selain penyanyi dengan lagu-lagu hit, seperti “Papa Don’t Preach” (1986), “Like a Prayer” (1989), dan “Vogue” (1990), Madonna juga penulis lagu, produser rekaman, dan aktris film yang membintangi Evita (1996), A League of Their Own (1992), Dick Tracy (1990), dan Desperately Seeking Susan (1985).
Selanjutnya hadir fenomena film Blockbuster, istilah adopsi dari bom Perang Dunia II untuk mendeskripsikan film-film yang “meledak” di pasaran dan bioskop. FIlm dengan modal biaya produksi dan pemasaran pada level kriteria sangat tinggi dan meraup profit finansial sangat tinggi pula berikut popularitas massal.
Film seperti Star Wars (produksi dan pertama kali 1977) dan Jaws (produksi dan rilis pertama kali pada 1975) mengubah bisnis film menjadi waralaba (franchise), pengembangan ke media lain, seperti merchandise (barang suvenir terkait dengan promosi produk film), sekuel (ada lanjutannya), buku, gim, serial di televisi untuk tujuan komersial jangka panjang.
Kelahiran Atari, perusahaan industri permainan video Amerika Serikat yang berdiri pada tahun 1972. Serta Nintendo, perusahaan asal Jepang yang memproduksi permainan video. Mereka memulai era kebangkitan budaya digital. Selanjutnya, Music Television (MTV) yang mulai meluncur pada 1981, mengubah cara khalayak audiens mengonsumsi musik. Tidak lagi hanya didengar, tetapi juga dilengkapi dengan video klip sebagai pembungkus estetika visual.
Budaya populer abad ke-20 juga ditandai era digital dan internet (1990-an). Menjelang akhir abad ini, dominasi teknologi digital mulai kelihatan. Penemuan internet mengubah distribusi budaya satu arah (televisi ke penonton) menjadi budaya interaktif.
Suatu pergeseran paradigma sosial, ketika manusia bukan lagi konsumen informasi pasif (seperti era surat kabar dan televisi). Melainkan aktif berperan serta, menciptakan, berbagi, dan mengubah konten di dalam ruang digital. Budaya ini menghendaki adanya komunikasi langsung (real-time), keterhubungan global tanpa batas geografis, dan ketergantungan pada komunitas online.
Muncul reaksi terhadap tren tahun 1980-an yang mendapat sebutan era glamor. Sebab, dekade tersebut mendapatkan penanda estetika mewah, berani, berlebihan, dan mencolok sebagaimana tampak di dunia mode, budaya populer, serta gaya hidup. Era ini menegaskan ekspresi diri yang cenderung mengagumi dan memperforma dengan anutan kredo “lebih banyak lebih baik” (more is more).
Wujud reaksi yang hadir terhadap keglamoran tersebut, yaitu budaya Grunge. Subkultur yang lahir dari musik Grunge di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Budaya ini mencerminkan sikap apatis, antikemapanan, dan keresahan anak muda lewat musik Rock yang mentah, campuran Metal dan Punk, gaya antifesyen (flanel, jins robek, pakaian bekas), berikut lirik jujur dan emosional merupakan simbol pemberontakan. Penganut budaya Grunge menampik glamor dan konsumerisme dengan mengedepankan estetika kumuh dan autentik.
Adapun ciri-ciri musik Grunge, gitar terdistorsi berat. Kasar. Percampuran adonan Punk Rock dan Heavy Metal. Pergerakan dinamika emosional naik turun. Liriknya merefleksikan keresahan, frustrasi, kebingungan, dan tema sosial. Band-band terkemuka Nirvana (tahun aktif 1987 – 1994), Pearl Jam (1990 – sekarang), Soundgarden (1984 – 1997; 2010 – 2018), Alice in Chains (1987 – 2002; 2005 – sekarang) menganut aliran musik ini.
Bila budaya populer abad ke-19 membutuhkan waktu kecepatan pengaruh tren dalam hitungan berbulan-bulan, maka budaya populer abad ke-20 hanya memerlukan hitungan detik melalui radio dan televisi. Kiblat pengaruh yang paling dominan dari Amerika Serikat, seperti film Hollywood, musik Jazz dan Rock, serta makanan cepat saji.
Kehadiran konsep selebritas yang tersohor di seantero jagat berkat reproduksi citra secara massal. Proses globalisasi intens sejak akhir abad ke-20 memuluskan perjalanan distribusi nilai, norma, dan praktik bersama ini kian menegaskan saling ketergantungan antarbangsa dan antarbudaya.
Abad Ke-21

Budaya populer pada abad ke-21 memperoleh definisi dari digitalisasi total, algoritma, dan keruntuhan batasan geografis. Digitalisasi total merujuk ke proses peralihan menyeluruh dari sistem manual (analog) menuju ke sistem berbasis digital pada semua aspek operasional. Algoritma bermakna, sistem media sosial, seperti TikTok, YouTube, Instagram, menyaring dan memersonalisasi konten (bisa berupa musik, tren, atau gaya hidup). Hal itu berlandaskan perilaku pengguna.
Selanjutnya, Algoritma media sosial juga berfungsi untuk membentuk tren viral dengan menganalisis preferensi pengguna, memprediksi konten yang berdaya tarik, dan mendistribusikan ke khalayak audiens yang lebih luas. Juga membentuk Echo Chamber, fenomena manakala seseorang hanya terpapar dan menerima informasi dan opini yang sesuai dengan keyakinan dan pandangannya, sedangkan yang tidak sesuai mengalami penyaringan atau pengabaian.
Godaan lambai konsumerisme pada abad ke-21 telah mengalami transformasi dan menjadi bagian yang integral alias tidak bisa terpisahkan dari budaya populer. Ada pula bumbu dorongan kemajuan teknologi digital, media sosial, dan arus globalisasi yang kian mengedepan kepesatannya. Gaya hidup bukan lagi sekadar pembelian menurut kebutuhan, melainkan semakin beringsut menggapai pelunasan hasrat simbolik dan mengangkat citra diri pada takhta yang setinggi-tingginya.
Identitas digital juga mengemuka dalam budaya populer abad ke-21. Ia merupakan representasi diri individu secara dalam jaringan (daring) lewat profil, data, dan aktivitas online. Meliputi aspek formal, seperti nomor induk kependudukan (NIK) atau surat elektronik (e-mail) dan aspek ekspresif (username, foto profil, konten media sosial).
Kesemua itu membentuk suatu integralitas dari cara individu berinteraksi, merekonstruksi citra diri, dan mengakses layanan di dunia maya. Berbareng dengan itu, ternyata identitas digital ini mengusung risiko manakala menghadapi tantangan privasi dan keamanan data.
Digitalisasi total, algoritma media sosial, konsumerisme, dan identitas digital, kesemua itu menghadirkan pengalaman budaya yang sangat personal. Akan tetapi, sekaligus juga dapat menghalangi keragaman perspektif.
Pilar utama budaya populer abad ke’21, yang paling mula layak mendapatkan penyebutan adalah keberadaan internet yang tidak lagi sekadar alat, tetapi telah meningkat derajat muruahnya sebagai ruang hidup utama. Ada era media sosial berada dalam rengkuh dominasi konten video pendek dengan durasi di kisaran waktu 15 detik hingga 3 menit, seperti di TikTok, Reels, dan YouTube Shorts.
Video-video pendek ini menjadi relatif menarik perhatian berkat kecepatan proses pengonsumsiannya, rata-rata fokus pada hal yang ringan secara mental, gampang menemukan ledakan viralitas. Fenomena ini sungguh relevan dengan kebanyakan khalayak audiens yang semakin pendek rentang perhatiannya.
Akan tetapi, konsumsi yang overdosis dapat berdampak terhadap konsentrasi dan terjerat risiko kecanduan. Meskipun demikian, kita tidak dapat memungkiri, format video pendek ini merupakan sarana yang efektif untuk hiburan, edukasi, hingga pemasaran.
Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube membuka ruang kemungkinan bagi siapa pun untuk bisa menjadi pesohor alias selebritas. Fenomena ini melegalkan keberlangsungan demokratisasi ketenaran. Popularitas tidak hanya menjadi keberhakan para pesohor konvensional melalui media televisi atau film.
Namun, dapat pula menjadi keberhakan individu yang mampu membuat konten-konten yang menarik perhatian warganet melalui teknologi digital. Realitas ini menunjukkan, telah terjadi perubahan pada cara seseorang meraih khalayak audiensnya. Kini fokus pada konten, kreativitas, dan interaksi langsung. Tidak lagi semata lewat koneksi industri.
Begitulah realitas menaruh eksistensinya. Budaya viral dewasa ini merestui adanya kedatangan dan kepergian tren secara silih berganti. Konten video vertikal pendek (9: 16) menjadi standar utama konsumsi informasi dan hiburan global. Video pendek format 9:16 sangat ideal untuk layar ponsel pintar dan platform seperti Instagram Stories, TikTok, dan YouTube Shorts karena memenuhi seluruh layar ponsel secara imersif. Suatu sensasi keterlibatan mendalam yang menyebabkan seseorang benar-benar hadir di suatu lingkungan, situasi, atau cerita yang membalutkan keseolahan penyatuan dunia nyata dan digital.
Poin-poin kunci kenapa video vertikal pendek menjadi standar global. Adanya dominasi Mobile-First. Sebanyak 90% lebih pengguna memanfaatkan ponsel pintar secara vertikal. Dengan demikian, format 9:16 tampil sebagai wujud pilihan paling intuitif dan imersif tanpa perlu harus memutar perangkat ke posisi horizontal.
Video vertikal pendek mengalami tren pertumbuhan yang pesat. Cakupannya diproyeksikan hingga kisaran angka 90% dari keseluruhan arus lalu lintas internet (internet traffic) dewasa ini. Format ini juga mendapat sentuhan perancangan untuk rentang perhatian lebih pendek di kisaran 5 hingga 90 detik. Untuk mempersembahkan kepuasan instan dan “pukulan jitu” pada tiga detik pertama. Selain itu, video pendek vertikal menaruh bukti dua setengah kali lebih menarik (engaging) berbandingkan dengan konten video panjang.
Poin kunci lainnya yang menjawab pertanyaan mengapa video vertikal pendek menjadi standar global, karena ia menjadi pilihan utama khalayak pengguna muda. Generasi Milenial dan Z secara dominan memanfaatkan format ini guna memperoleh hiburan dan informasi tentang makanan, olahraga, dan kecantikan.
Di samping itu, format ini juga mempunyai kekuatan pemasaran. Tidak kurang 73% konsumen cenderung menetapkan pilihan untuk menonton video pendek guna mengenal lebih rinci suatu produk daripada asyik mensaksamai konten teks. Hal ini mengangkatnya menjadi alat wajib dalam pemasaran digital.
Indonesia tercatat secara istikamah berada di posisi puncak 10 besar negara yang warganya menjadi pengonsumsi video pendek secara global berdasarkan data 2025 hingga proyeksi 2026. Hingga medio 2025, warga Indonesia menjadi pengguna TikTok terbanyak sejagat (di kisaran 194 juta pengguna), melewati Amerika Serikat dan Brasil. Dengan durasi tonton 38 – 44 jam per bulan khusus untuk platform TikTok. Dan, rata-rata 21 jam 50 menit per minggu untuk berbagai platform media sosial pada awal 2026.
YouTube Short dan Instagram Reels menemani TikTok sebagai platform yang relatif sangat dominan di kalangan publik pengguna Indonesia. Tidak kurang 91% pemakai internet menonton YouTube Short dan 83% menengok ke Instagram Reels untuk referensi belanja.
Adapun minat yang tampak dominan mencakup hiburan, makanan, olahraga, kecantikan, berikut konten
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











